
Siapa ingin melawan korupsi? Dengan cara apa kita melawan korupsi? Berkicau di Twitter dan social media atau aktivitas lainnya? Sejak kapan kita bertekad melawan korupsi? Sebenarnya, dalam keseharian kita, pernahkah kita mencatat satu perilaku kita yang tergolong korupsi?
Seribu pertanyaan lagi yang bisa berderet ketika bicara "Kita versus Korupsi", tapi nyatanya seringkali tidak sadar bahwa korupsi itu sangat dekat dengan keseharian kita. Korupsi tidak melulu melibatkan oknum pejabat korup, oknum penyelenggara negara korup, atau oknum wakil rakyat korup. Kenyataannya, korupsi begitu dekat dengan kita, baik terang-terangan atau menyusup tersembunyi di keseharian kita. Kadang begitu dekatnya, membuat kita lupa bahkan tidak sadar bahwa yang dilakukan adalah korupsi.
Untuk melihat gambaran kondisi tersebut, KPK dan Transparency International Indonesia (TII) menggagas dan memproduksi empat film pendek. Film-film ini seakan-akan kembali memetakan bagaimana kita versus korupsi. Film "Pssst Jangan Bilang Siapa-siapa" garapan sutradara Chaerun Nissa menceritakan guru yang memberi nilai lebih baik untuk murid yang membeli buku lewat dia. Tentu, harga buku itu lebih mahal daripada harga di luaran. Guru itu memanfaatkan satu murid untuk menjadi perantara penjualan buku dan memberikan "insentif" berupa uang jajan dan nilai yang bagus. Toh, penggelembungan harga buku juga sudah biasa dilakukan murid saat meminta uang kepada orang tuanya. Mungkin dua atau tiga kali lipat harga buku, dan sisanya adalah uang ekstra untuk bersenang-senang.
Beralih ke scene yang lain, Revalina S. Temat nyaris memusnahkan impian Nicholas Saputra yang akan meminangnya, gara-gara menyogok petugas KUA. Atau, simak akting Tora Sudiro yang memerankan kepala gudang yang jujur, yang tak tergiur uang suap dari penimbun beras meskipun keluarganya hidup kekurangan bahkan saat anaknya butuh uang untuk berobat.
Minggu depan, film antikorupsi ini sudah mulai bisa dinikmati berbagai kalangan. Eksekutif produser film antikorupsi, Abduh Aziz, mengatakan, munculnya film-film ini setelah dua tahun berlalu memang bukan jalan yang mudah. Menurutnya, sudah saatnya ada cara untuk memelihara gerakan-gerakan masyarakat yang jujur, yang sudah muak dengan korupsi. "Sekarang film ini terwujud. Kami berharap film ini bisa langsung berbicara pada masyarakat," katanya saat preview film di gedung KPK, pekan ini.
Aziz menambahkan, seluruh film ini dibuat dengan teknologi, pemain, dan cerita yang berdasarkan pada film layar lebar. Namun, film ini tak diputar secara komersial, karena seluruh artis dan pendukung film ini tidak dibayar. "Jadi, film ini nantinya akan kita putar di sekolah-sekolah, kampus, TV lokal, dan festival film," ucapnya.
Sementara itu, Teten Masduki mengungkapkan bahwa film-film ini bahkan banyak dipuji di kalangan orang perfilman sendiri. "Kalau mereka sudah memuji, tidak ada harapan lain, semoga lebih banyak sutradara yang membuat film serupa," tambahnya.
Gagasan segar muncul dari Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto yang turut menyaksikan film ini. Menurutnya, film ini harus bisa menjadi kekuatan kolektif masyarakat, karena yang disentuh adalah kejadian sehari-hari yang dialami banyak orang. "Jangan biarkan film ini hanya ditonton dan diresapi, terus hanya jadi kekuatan personal. Kita lawan korupsi dengan humanisme," tandasnya. Sementara Ketua KPK Abraham Samad sangat berharap film-film seperti ini bisa ditonton lebih banyak oleh orang Indonesia. "Film yang sangat menyentuh, mudah dipahami, dan sangat humanis," ujarnya.
Film ini akan mulai diputar untuk masyarakat pada akhir Januari 2012. Seperti pesan Bambang, film ini jangan hanya berhenti jadi tontonan, tetapi diharapkan bisa jadi tuntunan masyarakat. (humas)
Sumber :KPK










Discussion 0 Comments