TEMPO Interaktif, Jakarta - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Hongkong (Independent Commission Against Corruption), Tony Kwok membagikan rahasia sukses memberantas korupsi di negerinya, dimana saat itu penegak hukum di negara itu sangat korup.

Menurut Tony, pihaknya berhasil memberangus korupsi di Hongkong, karena semua kasus korupsi baik kasus besar maupun kasus kecil diberantas. Kasus-kasus kecil, seperti penyuapan atau minta disuap, seperti yang terjadi di segala lini jasa di Hongkong, baik institusi pemerintah maupun swasta, menurut dia,  langsung disikat. "Meski kami sering dikritik masyarakat, kenapa masalah kecil kami ikut campur?" ujarnya  kepada Tempo, Kamis, 11 Agustus 2011.

Tapi, kata Tony, itulah peran Komisi,"small fish punya efek dahsyat terhadap budaya (korupsi dan penyuapan)," katanya. Sehingga sekarang masyarakat Hongkong paham tindakan mereka. Termasuk tiga tahun perubahan budaya di bidang jasa institusi pemerintah dan swasta.

"Dulu ibu saya mesti memberi persenan 10 sampai 20 dolar Hongkong untuk mendapat air di rumah sakit," kata Tony,"Sekarang tidak."

Efek malu ditangkap di depan umum ketika ingin disuap itulah yang membuat institusi di Hongkong ketat terhadap masalah persenan tersebut. "Kami berhasil menghambat efek budaya korup ke masyarakat lebih meluas."

Selain itu menurut Tony, komisinya membuat mekanisme perlindungan saksi untuk para whistle blower. "Mereka sangat kami rahasiakan identitasnya," kata Tony.

Menurut Tony yang menjadi penasehat ahli untuk Komisi Anti Korupsi di Filipina, baik keluarga, maupun orang yang bekerjasama melakukan kejahatan nilainya sebagai whistle blower sangat berharga. "Kami punya program perlindungan saksi yang ketat, kami jaga betul identitas mereka tak terbongkar."

Namun, bila diperlukan, kata dia, identitas bisa dibuka, di pengadilan. Inilah yang membuat program Komisi itu bisa berhasil dalam memberantas kasus besar seperti yang terjadi di kepolisian Hongkong sebelum bergabung lagi dengan Cina.

Bentuk kerahasiaan ini, merupakan salah satu bentuk political will negara memberantas korupsi. Polisi dan jaksa, diikutsertakan, dan betul-betul diseleksi. Karena pada masanya, penegak hukum di Hongkong sangat korup.

Yophiandi

http://www.tempo.co/hg/hukum/2011/08/11/brk,20110811-351325,id.html

Sumber :Tempo Interaktif